Halaman

Jumat, 13 September 2013

Membuncah

Ada yang membuncah
Ada yang gelisah
Meski asa memang tak pernah mendekat
Sebagaimana kita yang tetap dalam jarak
Hanya ingin sua
Hanya ingin menatap
Lalu biarkan rindu yang membuncah terlepaskan
Hampa yang gelisah terhapuskan
Pulanglah
Itu saja


13 September 2013

Rabu, 14 Agustus 2013

Kenapa

Hari ini kamu sunyi
bukan sunyi yang bisa kunikmati
canggung

Hari ini kamu serampangan
menyetir seenaknya
membuatku tak nyaman
hampir saja kamu membawaku pulang
lupa singgah ke rumahku tuk mengantarku pulang

Hari ini kamu kenapa?

13 Agustus 2013

Meski Jenuh

Hey,
Sebenarnya aku sudah mulai jenuh
Pada relasi kita yang terasa ada bergantug pada putaran waktu
Bertemu di akhir minggu, lalu senyap sepanjang enam hari berikutnya
Seolah tak mengenal, seolah tak saling peduli
Baru di hari Sabtu, atau minggu, saat sejenak aku memikirkanmu
Dalam beberapa jam saja, sosokmu muncul di hadapanku
Lalu senyap lagi, dan berputar lagi
Seperti putaran waktu

Jenuh itu bahkan kerap kuumbar
Pada sahabat, pada saudara, pada siapa ku biasa berbagi cerita.
Stagnan, monoton, ga dinamis.
Tiga kata yang kugunakan ketika mereka kerap bertanya, tentang kamu, tentang kita.

Tapi tetap saja ku tak kuasa
Meski ku tengah menikmati performance band favoritku, yang kamu bahkan tak tahu
Ketika sebuat notifikasi mengantarkan pesan darimu
Kutinggalkan basa basi, kulangkahkan kaki, menemuimu
Kitapun bertemu, kembali, menjalani relasi yang bergantung pada putaran waktu

Hey, mungkin sekali saja waktu suaku denganmu dalam seminggu
Tapi sulit tuk mengelak bahwa aku menikmati itu
Aku suka melihat wajahmu yang kebingungan mencariku
Suka ketika kamu kerap menoleh seraya menertawaiku
Menatap wajahku yang cemberut ketakutan semakin terbenam di lenganmu

Hey,
Kamu tampan sekali malam ini

Terima kasih telah memperlakukanku dengan teramat sederhana. Menatapku sejajar, menilaiku dari sudut pandang yang mudah. Membuatku merasa sebagai, perempuan.


3 Agustus 2013

Rabu, 16 Januari 2013

Aku Kehilangan Halteku


Hai sahabat,
Aku begitu terbiasa dengan kehadiranmu. Dengan sapaanmu yang tak terlalu sering, namun teratur. Dengan kehadiranmu yang tak pernah lama, namun berkala. Dengan cerita-ceritamu yang tak beragam, namun selalu kau bagi denganku.

Seminggu, sebulan, dua bulan. Jangankan menemui kehadiranmu di hadapanku. Sapaanmu pun tak lagi kutemui. Ada hari-hari saat aku membutuhkanmu. Dengan segala kisah yang membuncah, tak sabar tuk kucurahkan padamu. Namun setiap kali aku hanya bisa memikirkanmu, melihat namamu, tanpa bisa mengungkapkan yang sudah siap tumpah.

Seandainya kamu tahu, betapa seringnya aku memancing perhatianmu. Sekedar berganti status BBM, tepat setelah namamu muncul di recent update BBMku. Sampai satu titik aku tak bisa bertahan. Aku yang setengah mati menahan gengsi akhirnya menyerah. Satu kalimat itupun kukirimkan padamu. Aku kangen kamu. Sedetik, semenit, sejam, sehari, pesan itu hanya mendapatkan tanda bahwa kamu sudah membacanya. Namun sama sekali tak ada balasan.

Aku memang tidak selalu ada untukmu, sebagaimana kamu tidak hadir setiap saat untuku. Namun setiap aku lelah dalam perjalananku. Setiap langkahku harus transit dari satu kisah ke kisah lainnya. setiap saat itu, aku terbiasa datang padamu. Terbiasa berada di dalam lindunganmu, hingga lelah, resah, penat, sedih, menjadi menguap tak tersisa. Terbiasa menikmati hangatnya tatapanmu, mendengarkan suaramu yang menenangkan, hingga aku bisa melangkah mantap ke perjalanan berikutnya.

Sekarang, saat kisahku kerap berganti tanpa jeda yang kulalui bersamamu, aku merasa kosong. Aku kehilangan halteku.

Jakarta, 16 Januari 2012
Penuh Rindu
Dny

Senin, 14 Januari 2013

pelawak 'favorit'


Teruntuk @radityadika

Heyho abang Radit, terpaksa ni ngirim surat cinta. Abis harus ke selebtweet. Secara dari zaman gw ga tau twitter lo udah nyeleb di twitter. Eh, eh Dik, ada yang bilang lo tu working hard to be funny lho. Jadi maksudnya lo tu lucunya ga genuine. Haha, abis tampang lo lebih cocok ditimbun buku si daripada ngelucu. Terus ya, menurut gw, sengaco-ngaconya stand up comedy tuh ya elo pas, materi lo abis putus sama Sherina. Puas gw ngetawain lo. Haha. Segitu aja deh surat cinta buat lo. Tenang, gimana pun Malam Minggu Miko tetep jadi favorit gw kok. Apalagi yang awal-awal. Episode Nisa. Sumpah lo mirip banget Olga Syahputra :D

Dengan Cinta
@DnayNisaa

Kamis, 27 Desember 2012

Jatuh Cinta dengan Logika

Ya, aku jatuh cinta padamu. Rasanya kalimat itu tak hanya membuat lidahku kelu. Namun juga membuat jariku kaku. Jariku yang beberapa bulan belakangan ini berperan aktif menyampaikan pesanku padamu. Jariku yang setengah mati menahan agar huruf r, i, n, d, & u di keypad tidak terpencet secara berurutan. Jariku yang seringkali tak sabaran menahan lincah geraknya, demi menunggu otaku yang masih terus berpikir, memilah, & memilih kata apa yang paling tepat untuk kusampaikan padamu.

Bagiku, cinta itu harus pakai otak. Cinta itu harus tetap menggunakan logika. Toh berpikir logis tidak akan mengurangi cinta yang dalam dan manis. Sebaliknya, dia menjadikan cinta kuat, anggun, teguh. Bukannya mengumbar air mata dengan kisah cinta yang tak sampai, apapun alasannya. Budaya? Nilai? Keluarga? Apapun itu, jika logika memutuskan tak hendak memperjuangkan cinta, lalu buat apa dia dipertahankan? Atas nama pengorbanan? Bukankah cinta seharusnya membahagiakan?

Aku jatuh cinta padamu belum begitu lama. Kalaupun sudah menginjak tahun, mungkin baru saja melewati tahun pertama. Perasaan itu datang, jujur bukan karena ada getar yang kurasakan setiap aku di dekatmu. Apalagi sampai memimpikan senyummu. Toh kenanganku tentangmu lebih banyak tentang ungkapan kesal, nada mengkritik, atau tatapan menyebalkan, ketika ada hal yang kamu tak suka.

Aku jatuh cinta padamu karena pemikiranmu. Karena caramu melihat hidup, memandang persoalan, dan menyikapinya dengan lentur, namun tetap 'bersikap.' Aku jatuh cinta padamu melalui diskusi-diskusi kita, melalui untaian kata yang kau rangkaikan lalu kubaca, melalui sikap, tanduk, cara, langkahmu yang kuperhatikan diam-diam.

Mengenalmu, entah kenapa membuatku percaya. Bahwa ada seseorang yang bisa memahami pemikiranku, kedaulatanku atas diriku sendiri, & harapanku tentang relasi perempuan-laki2,  istri-suami yang ideal. Karena itu aku jatuh cinta. Jatuh cinta dengan segala logika, jatuh cinta secara sadar dan rasional.

Maka rasioku terus membututi jari jemariku. Agar tetap menjaga sikapnya, agar tidak mengirimkan sinyal yang belum waktunya menyala. Rasio yang mengolah cinta dan rindu, menjadi keseharian biasa, tanpa harus menggebu, tanpa harus menuntut. Aku menunggu, aku menahan. Bukan berarti aku tak mau berjuang. Hanya saja aku belum selesai membacamu.

Pada saatnya nanti, bila lembar-lembar bukumu telah habis kubaca. Jika aku berhasil sampai ke endingnya, bisa jadi cintaku terungkap, cintaku terjawab, cintaku terbalas.

Namun jika tidak, biar aku menikmati kembali rasanya patah hati, menggali pembelajaran untuk melangkah lebih pasti. Patah hati hanya proses yang harus dilewati, sedang bangkit adalah keniscayaan. Begitulah logikaku menjanjikan.

Rabu, 17 Oktober 2012

Buat Apa

Ada seseorang yang membuatku menyetel aplikasi skype untuk selalu sign in begitu aku menyalakan leptop. Dia pergi, membawa pesanku untuk meng add akunku. Benar saja, tak lama dia mengadd, dan akupun menerimanya. Sejak saat itu, akunku selalu menyala, seiap saat leptop ini menyala

Namun buar apa, akunku selalu sedia, buat apa namanya tertera di list kontakku, kalau dia tak pernah menyalakan akunnya, dan kami tak pernah bersapa lagi di dunia maya.

Selasa, 18 September 2012

Cinta di Atas Bukit 3


Topeng di wajahku semakin menipis. Aku melangkahkan kakiku cepat-cepat meninggalkan gerbang sekolah. Syukurlah tak banyak kawan yang kukenal yang harus kulewati. Entah apa aku masih bisa mengumbar senyum di tengah kegundahan dan kesedihan hati ini.

Aku berlari kecil menuju gundukan tanah menyerupai bukit di belakang gedung sekolahku. Tempat di mana aku tanpa sepengetahuan kawan-kawanku biasa menghabiskan sore sendirian. ‘Bukit’ ini tidak terlalu jauh dari sekolah, namun entah kenapa tidak banyak orang yang datang ke sini. Mungkin desas-desus mengenai keangkeran tempat ini membuat dia kehilangan pengungjung. Meski demikian ‘bukit’ ini masih memiliki seorang pengunjung setia. Aku.

Sesampainya di puncak, aku langsung duduk di bawah satu-satunya pohon di sini. Menumpahkan segala gundah dan kesedihan melalui air mata yang kini tumpah tanpa bisa kutahan. Kulepaskan topeng yang sedari tadi kukenakan. Tidak ada lagi senyum yang terpaksa kulengkungkan. Tidak ada lagi keceriaan yang kubuat-buat selama seharian ini.

Pagi tadi aku terbangun dan mendapati Mama sedang berbicara di telefon dengan seorang Bude.
“Aku sudah tidak bisa lagi mempertahankannya, Mbak. Hatiku selalu sakit ketika membayangkannya tidur dengan perempuan lain.” Suara Mama seketika berubah menjadi isakan kecil. Mama hening sejenak sebelum melanjutkan, “aku rasa satu-satunya jalan adalah cerai. Besok aku akan urus ke pengadilan.”

Aku terhenyak. Tanpa kusadari kututup pintu kamarku dengan cukup keras. Aku kembali ke tempat tidur, menutup kupingku kencang-kencang, dan setengah mati menahan tangisan. Rupanya suara pintu yang kututup menyadarkan Mama bahwa anak semata wayangnya sudah bangun dan mendengarkan percakapan di telefon barusan. Mama langsung menyudahi pembicaraan dengan Bude, dan perlahan masuk ke dalam kamarku.

Aku masih terdiam. Masih dalam posisi kedua tanganku menutupi kupingku. Mama menghampiriku. Tangisannya membuatku tersadar, dan meengok ke arahnya. Mama memeluku, seraya berbisik, “kita harus kuat, Nak. Selama kita berdua kita pasti kuat.” Aku pun membalas pelukannya dan berjanji dalam hati, ‘aku harus kuat di hadapan Mama. Aku tidak boleh menangis di depannya.’

Begitulah, aku tetap menjadi gadis Mama yang ceria, yang tak pernah pelit menumbar senyum dan sapa, dan tak pernah bosan mendengarkan kawan-kawanku yang seringkali berkeluh kesah dengan masalah mereka. Rani yang berkeluh kesah uang jajannya dipotong karena pulang malam, atau Risa yang mengeluh karena tidak dibelikan ponsel keluaran terbaru. Seandainya mereka mengetahui masalahku. Sempat terlintas keinginan untuk menceritakan kepada mereka, tapi sulit rasanya mengungkapkan segala sesuatu yang masih menyesak di dada.

Seharian ini aku tak sabar menunggu bel pulang, agar aku bisa menumpahkan segala air mataku di bukitku. Aku hanya butuh meluapkan segala kesedihanku, melepaskan segala gundahku, agar aku merasa lega. Aku sengaja menyembunyikannya dari sahabat-sahabatku. Aku tidak ingin mereka bertanya-tanya. Aku tak butuh ditanya.

 Tiba-tiba saja aku merasakan ada seseorang yang duduk di sebelahku. Aku mengangkat wajahku dan melihat Ega, salah satu teman sekelasku. Dia tersenyum kaku, namun tidak mengucapkan apapun. Aku hanya membuang mukaku. Berusaha menyembunyikan wajah tanpa topengku. Mengira-ngira apa yang akan dilakukan atau dikatakan oleh Ega.

Namun Ega hanya diam. Bahkan dia tidak memandangiku. Sekilas aku melihatnya memainkan rerumputan yang menjadi alas duduk kami. Sekilas lagi aku melihatnya menerawang menatap angan. Kehadiran Ega begitu hening, seakan dia tidak ingin menggangguku. Namun dia tetap di sisiku. Tak beranjak sedetikpun meski keheningan di antara kami sudah berlangsung hampir empat jam.
Sore lalu beranjak menjadi senja, dan malampun menjelang. Hingga bulan telah muncul dengan sempurna, Ega tetap di sampingku. Akhirnya aku mengangkat wajahku dan mencoba menatapnya. Diapun menatap ke arahku, tersenyum ragu-ragu. Kali ini aku membalas senyumannya. Lalu senyumnya perlahan tak lagi ragu-ragu.

Aku menghela nafas panjang sebelum akhirnya kutemukan bibirku bersuara.
“Ga bosen di sini?” tanyaku pada Ega
“Nggak kok, tempatnya bagus, anginnya juga enak,” jawab Ega.
Sejenak kami terdiam. menikmati apa yang melintas di pikiran kami masing-masing.
“Eh, maaf ya kalo aku ganggu. Aku ga bermaksud ganggu kamu, tapi aku pikir, ga akan aman ninggalin kamu sendirian di sini,” ucap Ega gugup.
Aku tersenyum seraya menjawab, ”kamu sama sekali ga ganggu kok.”

Lalu Ega tersenyum lagi. Detik itu aku menyadari betapa menariknya senyuman Ega. Bersamaan dengan aku menyadari bahwa di balik kacamatanya, ada mata yang begitu teduh menenangkan.
“Kamu sering ke sini?” kata Ega lagi.
Aku menjawab dengan anggukan.
“Hmm, kalau emang aku ga ganggu, boleh aku tetap di sini, nemenin kamu?” tanyanya.
Lagi-lagi aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Seraya berbisik di dalam hati, wahai bukitku, kali ini kamu mendapatkan pengunjung baru.

On the night like this, There are so many things I wanna tell you 
On the night like this, There so many things I wanna share you 
Cause when you’re around, I feel safe and warm 
Cause when you’re around, I can fall in love everyday 
In the case like thisThere a thousand good reasons, I want you to stay. 
(On The Night Like This- Mocca)

Sabtu, 15 September 2012

Pertama dan Terakhir


Gigitanku di bibir bawahku semakin keras karena setengah mati menahan tangis. Meski tak sanggup tersenyum, namun takkan kubiarkan sebutirpun air mata jatuh di hadapanmu. Sementara kamu hanya diam memandangiku. Tanpa kamu sadar bahwa aku sudah hampir tak kuat berdiri.

Kamupun menarik napas panjang, sebelum berkata, “Ras, kamu berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik.” Akhirnya kalimat klise itu keluar juga dari mulutmu. Kalimat yang membuatku tertawa miris. Dari dulu aku paling muak dengan alasan semacam itu. Jangan kamu pikir aku tak tahu. Intinya kamu berhenti menginginkanku, itu saja. Alasan ‘berhak mendapatkan yang lebih baik’ hanyalah omong kosong.

Namun aku tak mendebatmu. Hanya tersenyum sekilas, dan berlalu meninggalkanmu. Aku tak lagi bertanya-tanya apa yang membuatmu berubah. Tak lagi mencari-cari kesempatan untuk tetap mempertahankan hubungan kita. Kalimat klisemu berarti satu, kita telah usai. Itu saja.

Tiba di rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Merasakan segala harapan yang hancur lebur berantakan. Segala gengsi dan tinggi hati yang tadi terjaga rapi di hadapanmu, kini runtuh. Hanya menyisakan air mata dan sesak di dada, yang entah berapa lama harus kurasa. Karena aku masih begitu mencintaimu, sangat mencintaimu.

Bayangan tentangmupun muncul layaknya adegan demi adegan film yang diputar di dalam sanubariku. Dimulai ketika kita pertama kali bertemu. Masih begitu jelas, seakan baru terjadi kemarin.

Hari itu, seperti biasa aku berangkat ke kampus dengan angkutan umum. Di dalamnya tidak terlalu ramai, namun tidak terlalu sepi. Ada aku, kamu yang duduk tepat di depanku, seorang ibu dengan dua anak perempuannya, seorang Bapak bertubuh gempal, dan seorang perempuan muda yang usianya mungkin sama denganku. Di tengah perjalanan, seorang pengamen kecil naik dan menyanyikan lagu Darah Juang. Aku merogoh tas ranselku. Meraih sekotak susu UHT rasa coklat yang memang selalu kusediakan untuk adik-adik kecil yang mengamen di angkutan umum.

Selesai bernyanyi, sang pengamen cilik menjulurkan tangannya untuk meminta recehan. Ketika tangan itu sampai di hadapanku, aku mengulurkan tanganku yang sedari tadi masih tersembunyi di dalam ransel seraya memegang susu coklat untuknya. Namun kulihat susu coklatku tidak sendirian. Ada susu coklat lain yang terulur untuk si pengamen cilik, dengan merk yang sama, ukuran yang sama, bahkan rasa yang sama, dari tanganmu.

Kita pun saling bertatapan dan tersenyum sekilas. Sementara si pengamen kecil tidak segera merih dua susu coklat yang diulurkan kepadanya.
“Eh, saya ambil yang mana ya?” katanya bingung.
“Hmmm, ambil dua-duanya aja Dik,” ucapmu seraya tersenyum hangat.
“Yang satu kan bisa diminum besok, atau bisa juga dibagi ke temanmu,” aku pun ikut menimpali.
Si pengamen kecilpun meraih kedua kotak susunya sambil tersenyum, sebelum kemudian turun dari angkutan umum, dan berlari-lari riang ke tepi jalan.

Sejak detik itu, aku jadi memperhatikanmu. Kamu bukanlah pria tampan dalam khayalanku. Berwajah jawa, berhidung tidak terlalu mancung, dengan celana bahan, dan kemeja sederhana. Hanya saja entah kenapa kesederhanaanmu membuahkan kehangatan.

Tak terasa angkutan umum yang kita tumpangi sudah sampai di depan jalan kampusku. Ternyata bukan hanya jalan kampusku, melainkan jalan kampus kita. kamu turun di tempat yang sama, dan kita menyeberang bersamaan. Akhirnya, kitapun memutuskan untuk berjalan beriringan.
“Kuliah di sini juga? Tanyamu.
“Iya,” jawabku.
“Fakultas apa?” tanyamu lagi
“Fisip. Kamu?” kali ini aku ikut bertanya.
“Teknik,” jawabmu.
Lalu kita sempat terdiam. Canggung, mencari bahan pembicaraan.
Tiba-tiba kamu mengulurkan tanganmu.
“Ohiya, kita belum kenalan. Aku Alan,” ucapmu, lagi-lagi dengan senyummu yang begitu hangat.
“Aku Laras,” ucapku sambil memamerkan senyum termanis yang kumiliki.

Perkenalan kita, yang berlanjut menjadi sebuah pertemanan. Ketika hari-hariku akhirnya selalu diisi denganmu. Berangkat dan pulang kampus bersama, Makan siang di Fakultas Ilmu Budaya, yang letaknya di antara kampusku dan kampusmu, berdiskusi tentang banyak hal, hingga SMS-SMS manis yang setiap hari selalu memenuh inbox HPku.

Tanpa kamu sadari, aku belajar banyak hal darimu. Kamu begitu bijaksana dalam melihat setiap persoalan. Kamu selalu bisa membuatku yakin ketika aku ragu-ragu dalam membuat keputusan. Kamu mengajarkanku untuk berpikir positif, dan berani mengambil kesempatan yang ada di hadapanku. Kamu selalu bisa membuatku bersemangat dan percaya bahwa tak ada yang tak bisa aku lakukan, asal aku mau berusaha.

Aku yang sejak awal terkesan denganmu, kemudian mengagumi, dan secara perlahan namun pasti, jatuh cinta kepadamu. Tak kukira cintaku terbalas. Setelah dua tahun kita saling mengenal, kamu mengungkapkan perasaanmu. Hari itu adalah hari paling bahagia untukku. Kamu cinta pertama untukku, pacar pertamaku, pria pertama yang kuizinkan masuk ke dalam hatiku di usiaku yang tak lagi remaja.

Seandainya kamu ingat. Sesaat setelah kita jadian dulu, kita saling bergenggam tangan, seraya mendengar sebuah lagu. Aku sempat berbisik di telingamu, memintamu menyimak sepenggal lirik lagu itu, “Tuh, dengerin ya Lan.” Kamu hanya tersenyum, seraya membelai rambutku.

Bila suatu saat kau harus pergi
Jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik.
Karena senyumu menyadarkanku
Kaulah cinta pertama dan terakhirku
-Sherina-

Rabu, 12 September 2012

Cinta di Atas Bukit 2


Namamu Fajar Pandega. Fajar artinya pagi. Sebagaimana aku selalu menanti pagi yang hangat, seperti itu pula aku menghitung hari menanti kepulanganmu. Semenjak hari itu ketika kita bertemu di bukit belakang sekolah. Sebuah gundukan rumput saja sebenarnya. Tempat kita biasa berbagi cerita, berbagi rasa berbagi mimpi.

Kita duduk berdua di bawah satu-satunya pohon yang ada di sana. Tempat favorit kita, seperti biasa. Tapi ada yang tidak biasa. Kamu tampak gelisah. Tatapan matamu menerawang tak tentu arah. Aku mencoba menerka, namun ternyata aku tak mampu membaca.

Hari ini, kita merayakan kelulusan kita berdua saja. Dalam hening yang menyenangkan, menikmati lagu indah dari semilir angin dan dedaunan yang saling bergesekan. Kamu tahu? Hanya denganmu aku merasa nyaman untuk melakukan apa saja. Bahkan dalam kesunyian di antara kita. Dari dulu aku percaya, kesunyianan bukan berarti canggung. Namun baru denganmulah aku bisa menikmati kesunyian, tanpa kekakuan. Kita tak perlu bicara, hanya duduk berdampingan, dan sama-sama menikmati keindahan yang tercipta di sekitar kita.

Lalu, tiba-tiba suaramu memecah keheningan.
“Kar, setelah wisuda nanti, aku akan langsung meneruskan studiku.”
“Ohya? Wiihh, Hebat. Beasiswa? Selamat ya,” seruku senang.

Kamu tersenyum sekilas. Sekilas saja. Aku bertanya-tanya. Bukankah seharusnya kamu gembira? Bukannya kamu tidak terlihat bahagia, hanya saja sepertinya ada hal yang berat yang mengganjal di benakmu. Aku tersenyum seraya memandangmu, lagi-lagi mencoba menerka, menyelidiki apa yang ada di balik wajahmu.

“Kar, aku akan S2 di Australi,” ucapmu sangat pelan dan hati-hati. 

Namun telingaku sanggup menerima ucapanmu. Mencernanya di dalam otaku. Aku terdiam, menahan segala rasa yang tiba-tiba bergejolak di hatiku, menuntut untuk diteriakan. Bibirku menjadi kelu. Namun aku tetap mencoba tersenyum. Entah seperti apa senyum itu di matamu, mungkin terlihat palsu. Tapi asal kamu tahu, saat itu aku berusaha keras membentuk lengkungan manis di bibirku.

Di depan mataku terbersit bayangan perpisahan. Aku tak mampu lagi mengendalikan setiap kata yang terucap dari bibirku setelah itu. Jiwaku tiba-tiba hampa, ada yang pergi entah kemana.  

Dan di sinilah aku, di bukit kita, hampir setiap pagi. Melewati pagi demi pagi. Mencoret tanggal demi tanggal, menghitung hari, menantikan kedatanganmu.

Seandainya saat itu aku tak menahan rasaku yang bergejolak. Seandainya aku meneriakan apa saja yang ada di benakku.

Pagi, jangan pergi,
 Kutakut malam nanti ku masih sendiri
 Dan pagimu tak lagi indah
 (Pagi, by Dialog Dini Hari)

Minggu, 09 September 2012

Cinta di atas Bukit 1


Kalau bukan dia, mungkin sampai kapanpun aku tak akan pernah siap

Ega,
Bogor, 9 September 2012
Seperti biasanya bukit kami selalu indah. Ah, tentu saja bukan bukit sungguhan. Hanya segunduk tanah di belakang sekolah kami dulu. Rerumputan yang tumbuh tak beraturan, lalu di berbagai tempat bunga-bunga yang tumbuh mulai bermekaran. Tapi keindahan bukit ini bukan sekedar di rerumputan hijaunya. Bukan pula di bunga warna warni yang tengah bersemi.

Sekar. Sahabatku, yang diam-diam juga telah menempati sebuah ruang besar di dalam hatiku. Kekasihku.

“Angin di sini tu selalu pas ya. Ga teralu kencang, tapi juga cukup sejuk,” ucap Sekar.

Kata yang selalu dia ulang setiap kami melewatkan waktu berdua di bukit. Entah sejak kapan tepatnya, aku tak mencatat tanggalnya. Sejak aku menemukannya menangis seraya duduk di atas batu. Sekar yang populer dan terkenal sebagai perempuan yang ceria dan selalu tegar. Tempat kawan-kawannya mencurahkan perasaan, dan selalu diladeninya dengan sabar dan bijaksana. Sebelumnya aku jarang berinteraksi dengannya. Namun sejak aku melihatnya berair mata dan memberanikan diri duduk di sampingnya. Sejak saat itu, tanpa terucap, kami selalu kembali ke bukit kami. Berdua, sekedar menikmati semilir angin, dan mengawasi hampir setiap tangkai bunga yang tumbuh di sekitar satu-satunya pohon di bukit kami. Tempat favorit kami.

“Ga, Ga, tuhkan, kamu pasti ga denger ya aku ngomong dari tadi?”
“Eh, Maaf Kar, kenapa?”
“Kamu tu tumben amat bengong gitu, dari tadi ngeliatin aku ga jelas. Katanya ada yang mau diomongin?”
***
Sekar,
Bogor, 9 September 2012
Angin di bukit kami tak pernah berubah. Satu-satunya tempat dimana aku merasa nyaman, dan bahkan merasa bisa menjadi diriku sendiri. Bebas mengkhayal dan bermimpi. Apalagi sejak dia muncul di dalam hidupku. Berbagi berbagai hal tanpa merasa sungkan, tanpa merasa khawatir. Ega. Si kutubuku sekolah, yang setiap hari duduk di kursi paling depan. Dulu kami jarang bertegur sapa. Matanya selalu berada di balik buku. Bahkan waktu istirahatpun, seringkali dia lewatkan dengan membaca.

Lalu suatu hari secara ajaib dia hadir ke hidupku. Ketika aku sedang sedih menghadapi perceraian Mama Papaku. Aku hanya bisa mengadu melalui air mata yang kutumpahkan ketika ku sendirian. Saat itulah aku merasa ada seseorang duduk di sebelahku. Ega, dia hanya memandangku, dan tersenyum malu-malu. Lalu perlahan senyumnya tak lagi ragu-ragu. Tanpa bertanya, tanpa bicara, dia tetap di sisiku. Tidak memaksaku bercerita, dan membiarkanku menumpahkan air mata.

Sejak saat itu, kami pun selalu menikmati bukit kami. Meski kelulusan tak terelakan, dan kami melanjutkan studi kami di kampus masing-masing. Namun tanpa janji, setiap minggunya, bukit kami selalu menjadi tempat sempurna untuk kami berdua.

Selama dua tahun, kami terpaksa pergi sendiri-sendiri. Lantaran setelah lulus kuliah, Ega memutuskan untuk melanjutkan studinya di luar negeri. Ketika dia pulang, justru aku yang berhasil mendapatkan beasiswa yang kuincar sejak aku di tingkat akhir S1 ku. Begitu aku kembali, Ega langsung menelfonku meminta bertemu. Dia berkata ada hal yang ingin disampaikan. Entah kenapa, sejak telefonnya itu, jantungku berdegup tak karuan.

Di sinilah kami sekarang, di bukit kami. Namun sejak tadi, Ega lebih banyak diam. Sempat dia menatapku, kukira dia mendengarkanku bicara. Tapi jangankan mendengar kata-kataku. Sepertinya pikirannya berkelana entah dimana.

“Ga, kok bengong lagi si?”
“Maaf Kar. Ada yang ingin aku bicarakan, serius denganmu.”
Deg, jantungku berdegup semakin cepat. Tatapan Ega tajam menuju mataku, dan terasa hingga ke jantungku.
***
Ega,
Bogor, 30 Juli 2010
Kami baru saja lulus kuliah. Aku langsung mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2ku. Hari ini,  aku bertekad untuk menyampaikan perasaanku pada Sekar. Perasaan yang entah sejak kapan muncul di dalam hatiku. Mungkin karena terbiasa, mungkin juga sudah tumbuh sejak awal kami betemu.

 “Ga, ga terasa ya, akhirnya kita lulus kuliah.”
“Yup! Empat tahun selesai, kuliah beres, tinggal kerja, terus kawin deh.”
“Huahahaha, kawin?”
“Yaiyalah, emang kamu ga kepengen kawin?”
“Belom siap Ga.”
“kenapa?”
“Aku belum siap melepaskan semua mimpi-mimpi aku.”
“Loh, emangnya kalo kawin kamu harus melepaskan mimpi-mimpi kamu?
“Yah, kamu kayak ga tau aja di Indonesia ini, perempuan tu dibebankan pekerjaan rumah tangga. Jadi kalau udah nikah, ujung-unjungnya pasti sibuk ngurusin suami, ngurusin anak, dan lain sebagainya. Kalo sudah begitu, impian-impian aku yang banyak itu, kapan dikejarnya?”
“Hahaha, emang pasti gitu? Cari suaminya jangan yang patriarkis donk.”
“Nah itulah susahnya di Indonesia. mana ada cowok yang mau ngerti kalau kerjaan rumah tangga tu juga pekerjaan laki-laki. Bahwa masak, nyuci, dan lain sebagainya itu juga ga aneh kalau dikerjakan laki-laki. Coba, mana ada laki-laki yang ketika istrinya ingin menggapai mimpinya, sementara ada kebutuhan pengasuhan dan pendidikan anak, terus demi mendorong si istri menggapai mimpi dia mau berhenti kerja dan mengurus anaknya plus mengurus rumah tangga?“
“Jadi kamu pengen punya suami yang mau di rumah, sementara kamu sibuk mengejar impian kamu di luar rumah?”
“Ya ga gitu juga, kan bisa diomongin sama-sama. Impianku apa, impian suamiku apa, kapan kita bisa sama-sama lari, kapan kita harus gantian lari. Tapi kenyataannya selama ini kan ga ada laki-laki yang mendukung istrinya seperti itu. Ngasih izin aja, udah dianggap mendukung, padahal kan ga sesederhana itu. Sebaliknya, perempuan selalu dituntut untuk mau berkorban dalam situasi seperti itu.”

Aku terdiam menyimak ucapanmu. Tidak mengangguk, tidak pula membantah.

“Kecuali kalau”
“Kalau apa?”

Sekar hanya diam tak menjawab, lalu malah sibuk menceritakan pengalaman barunya sebagai wartawan.

Kalau saja aku tetap maju. Tetap menyampaikan perasaanku, mengajaknya menikah, dan membawanya menyertaiku menjalani studiku ke negeri kanguru. Tapi aku terlalu takut akan penolakan. Aku melewatkan kesempatan itu.
***
Sekar,
Bogor, 30 Juli 2012
Aku yang diam-diam memendam rasa sejak SMA, ingin menyampaikan perasaanku pada Ega. Hari ini, di bukit kami, kubulatkan tekadku. Kukuatkan hatiku, aku tak peduli, risiko apapun yang akan datang, aku tak bisa diam lagi. Namun ternyata, tekadku bisa kandas juga. Ega pamit untuk melanjutkan studinya ke Australia. Membuatku tiba-tiba merasa hampa.

Lalu entah bagaimana, kami bicara soal pernikahan. Secara spontan dan salah tingkah aku bilang aku belum siap, dengan segala alasan yang kubuat, yang sebenarnya bisa terbantahkan kalau saja.

 “Kecuali kalau”
“Kalau apa?”

Seandainya aku berani, mengucapkan kata-kata yang menyangkut di kerongkonganku, ‘kecuali kalau kamu yang menjadi suamiku.’
***
Ega
Bogor, 9 September 2012
Inilah saatnya. Aku yakin sekaranglah waktu yang tepat. Aku tahu risikonya. Tapi aku tak sanggup kehilangan kesempatan untuk meraih impianku. Dua tahun lalu aku melewakan kesempatanku. Tapi tidak kali ini.

Sekar
Bogor, 9 September 2012
Ega, seandainya dia tahu. Sejak dia jauh, aku terpaksa mendatangi bukit kami sendirian. Berbicara dengan angin, berharap angin bisa menerbangkan rinduku kepadanya yang di seberang lautan. Sejak saat itu aku mengerti rindu, sejak saat itu aku tahu rasanya cemburu.

Ega, apakah gerangan yang ingin dia sampaikan. Entah kenapa, harapan-harapan tentang dia, tentang rasaku padanya muncul tiba-tiba. Aku tak sanggup menahan degup jantungku yang begitu kencang. Aku takut dia mendengar.
***
Ega dan Sekar,
Bogor 9 September 2012
“Sekar, aku ingin kamu menjadi istriku.”
Sekar terdiam. Tak menjawab, hanya pipinya yang terlihat merona, dan matanya yang bersinar lembut.
“Aku mencintai kamu, Sekar. aku mencintai impianmu, termasuk mencintai segala risiko menjadi suami kamu.”
“Ga,”
“Aku serius Sekar. Ga ada yang lebih membuat aku bahagia, selain dengan membahagiakanmu. Dan ga ada yang paling aku inginkan, selain mengejar mimpi dan menjalani hidup bersamamu.
“Ga, sekarang giliran aku yang bicara. Aku mau.”
“Serius? Tapi kamu..." Suara Ega terhenti.
Sekar menatap Ega, dengan pandangan bertanya.
Kamu, siap nikah kan?”
Sekar tersenyum. matanya menatap Ega lembut, dengan penuh keyakinan, dia menjawab,
“Iya, Ga, kalau denganmu, aku siap. Aku tau kamu, aku tau cara kamu memandang relasi suami istri. Aku tau impianmu, dan aku yakin, impianmu, impianku, akan menjadi impian kita, dan kita bisa raih bersama.”
Ega pun memeluk Sekar. Mendekapnya lembut, merasakan setiap energi cinta yang mengalir di antara mereka.
“Aku akan membahagiakanmu Kar,” janji Ega.
“Kalau bukan kamu Ga, mungkin sampai kapanpun aku tak akan pernah siap,” bisik Sekar.
***
Terinspirasi dari lagu Perahu Kertas, Maudy Ayunda
Betapa ajaib hidup ini
Mencari-cari tambatan hati
Kau sahabatku sendiri
Hidupkan lagi mimpi-mimpi
Cita-cita
Berdua ku bisa percaya

Kamis, 09 Agustus 2012

Dua Kata

Hanya ada dua kata darimu malam ini. dua kata yang aku sendiri tak mengerti. dua kata yang memang tidak ditujukan kepadaku.

Tapi aku, demi menangkap dua kata itu menggerakan jemariku begitu perlahan. menyimak deret demi deret huruf dalam dunia seluas 140 karakter, menyelami ratusan atau mungkin ribuan kata lainnya. Baru akhirnya sampai ke dua kata itu.

Dua kata yang tak kumengerti artinya, dua kata yang bukan untukku. Tapi tetap saja menggetarkan semua bagian hatiku, memercik di setiap relung jiwaku, mengaliri setiap jengkal tubuhku.

Lalu keluar, berupa air bening, yang menyeruak dari kedua sudut mataku

Ah, aku rindu kamu

Kamis, 19 Juli 2012

Janji

Lalu janji itu,
menjanjikan kita akan kembali bertemu
tenanglah
Pasti kan kutagih janji itu ^^

Tak Terlihat

Untunglah, kamu hanya bisa mendengar suaraku
Tanpa bisa melihatku
dan pipiku yang perlahan bersemu

Jumat, 22 Juni 2012

Puisi Cinta


Hari telah senja ketika aku terjebak di tengah-tengah puisi cinta
Sementara senandung azan mengiringiku menjelajah kata demi kata yang memesona
Ah,, betapa Tuhan mencipta keindahan melalui manusia
Melalui rasamu, pikirmu, dan jemarimu yang mengetikkan keanggunan dalam kata
Kata, hanyalah kata biasa. Yang menemuiku, kamu, dan siapa saja
Namun ketika kata dan kata berkumpul atas kehendakmu
Mereka menjadi puisi, mereka menjadi cinta

Untuk seorang penyair, yang keindahannya kutemui ketika senja

Senin, 11 Juni 2012

Move On

Untuk kenangan yang tak akan terulang
Untuk kesempatan yang telah terlewatkan.

Biarkan aku bergerak maju
dan meninggalkanmu tetap di belakang

Kamis, 07 Juni 2012

Melihat Kearahmu

Untuk yang begitu menginspirasi
Ternyata kehangatan yang kamu berikan tidak hanya terjalin selama setahun ini. Setidaknya begitulah yang kupahami ketika aku membuka beberapa postingan ketika ulang tahun selama tiga tahun terakhir. dan ucapanmu sudah bertengger di situ. Tak sekedar ucapan Selamat basa basi, atau doa wish you all the best yang begitu umum.

Atau ketika kamu mengirimkan sebuah lagu penuh semangat tentang tanggung jawab akan pendidikan. Memang tak hanya untuku. Tapi setidaknya saat itu aku sudah kamu masukan ke dalam list orang-orang yang kelak akan kamu ajak berjuang.

Ah,, betapa aku tidak mengingatmu ketika itu, tidak pernah mempertimbangkanmu, tidak pernah melihat ke arahmu.

Lalu kini, ketika kamu tak lagi menoleh ke arahku, justru ketika aku mulai melihat kamu. hanya kamu. satu-satunya.

Untuk kamu yang telah melangkah jauh dariku
membuat keputusan yang membuatku takkan mampu mengejarmu

Inspirasimu tak pernah lekang
Kehangatanmu, meski hanya kenangan, namun membekas lembut dan menenangkan

Maka di langkah-langkahku ke depan
izinkan aku untuk tetap mengingatmu
untuk tetap mengagumimu
untuk tetap melihat kepadamu. Satu-satunya, hanya kamu

Selasa, 15 Mei 2012

Aku Rindu

Selamat pagi
Rasanya menyenangkan jika bisa menyapamu setiap hari.
Meski tak ada kepentingan penting yang hendak disampaikan,
namun sekedar melihat akun YM mu berkelap-kelip menjawab pesan dariku,
sudah cukup membuatku tersipu.

Entah sudah beberapa waktu ini
Entah kamu atau aku yang memulai
Entah YM, Whatsapp, atau sarana chatting lainnya

Alwalnya tak terasa
Namun tiba-tiba rasanya ada yang janggal,
jika tak kutemukan sapamu sehari saja.

Rasanya ada yang kurang,
tanpa bermain emoticon
seraya tertawa diam-diam
atau mengekspresikan emoticon lainnya di dunia nyata

Rasanya ada yang rindu
kala jari ini terbiasa mengetik sederet huruf
Penggalan namamu dengan huruf terakhirnya yang selalu kubuat panjang

Selamat Pagi
hari ini username-mu yang berlum pernah kutanya artinya
tidak muncul di friend list YM ku

Selamat Pagi
Aku rindu..

Tentang Cinta


Barangkali memang hanya rasa penasaranku saja. Ketika kamu yang biasa berbusa-busa menggunakan istilah-istilah rumit dalam tulisanmu. Membuatku menggelengkan kepala, bahkan kadang (honestly) malas membaca tulisanmu lebih lanjut karena merasa tulisan itu terlalu ‘berat.’ Lalu tiba-tiba aku menemukanmu bertutur tentang cinta. Sederhana, namun sangat bermakna.

Usiamu sangat belia, bahkan jika dibandingkan dengan usiaku. Namun rasanya salah pabila aku menganggapmu adik. Sejak awal, pemikiranmu tak membuatmu duduk lebih rendah ketika berhadapan denganku. Kegelisahan-kegelisahan yang kau ungkapkan, justru menunjukan kematangan berpikir tentang hidup, tentang ideologi, bahkan tentang cinta.

Maka biarlah aku menjelajahi pemikiranmu. Menemukan jembatan untuku bisa lebih memahami kegelisahanmu. Hari ini, aku berhenti pada sebuah postingan tanpa komentarmu. Sebuah kesederhanaan cinta nan manis, indah, lugu.

Izinkan aku mengencanimu di alam mimpi. Mengupas habis isi kepala dan hatimu. Kali ini, tidak tentang perjuangan, tidak tentang ideologi, tidak tentang kemiskinan, tapi tentang cinta.

Minggu, 25 Maret 2012

Mimpiku Semalam

Aku tak tahu sejak kapan, tapi kapanpun perasaan itu muncul, beberapa hari ini dia menguat berlipat-lipat.

Entah apa kamu sadar, tapi kali ini aku benar-benar tergerak. Mencari cara, mencari jalan, seidaknya untuk sekedar menyapamu. Aku belum berani berharap lebih dari itu.

Malam ini, kamu muncul di mimpiku. teramat jelas, tak seperti mimpi-mimpiku biasanya. namun Tuhan tak memberi tanda melalui mimpi itu. Hingga aku masih bertanya-tanya.

Kalaulah kamu bersedia, berikanlah aku sinyal sedikit lagi, agar langkah itu tak meragu. Entah maju, atau mundur, asal tak meragu.

Atau aku harus mengiba kepada Tuhan, agar sekedar memberikanku mimpi sekali lagi. sama jelasnya dengan semalam, namun jangan membuatku bimbang.