Ya, aku jatuh cinta padamu. Rasanya kalimat itu tak hanya membuat lidahku kelu. Namun juga membuat jariku kaku. Jariku yang beberapa bulan belakangan ini berperan aktif menyampaikan pesanku padamu. Jariku yang setengah mati menahan agar huruf r, i, n, d, & u di keypad tidak terpencet secara berurutan. Jariku yang seringkali tak sabaran menahan lincah geraknya, demi menunggu otaku yang masih terus berpikir, memilah, & memilih kata apa yang paling tepat untuk kusampaikan padamu.
Bagiku, cinta itu harus pakai otak. Cinta itu harus tetap menggunakan logika. Toh berpikir logis tidak akan mengurangi cinta yang dalam dan manis. Sebaliknya, dia menjadikan cinta kuat, anggun, teguh. Bukannya mengumbar air mata dengan kisah cinta yang tak sampai, apapun alasannya. Budaya? Nilai? Keluarga? Apapun itu, jika logika memutuskan tak hendak memperjuangkan cinta, lalu buat apa dia dipertahankan? Atas nama pengorbanan? Bukankah cinta seharusnya membahagiakan?
Aku jatuh cinta padamu belum begitu lama. Kalaupun sudah menginjak tahun, mungkin baru saja melewati tahun pertama. Perasaan itu datang, jujur bukan karena ada getar yang kurasakan setiap aku di dekatmu. Apalagi sampai memimpikan senyummu. Toh kenanganku tentangmu lebih banyak tentang ungkapan kesal, nada mengkritik, atau tatapan menyebalkan, ketika ada hal yang kamu tak suka.
Aku jatuh cinta padamu karena pemikiranmu. Karena caramu melihat hidup, memandang persoalan, dan menyikapinya dengan lentur, namun tetap 'bersikap.' Aku jatuh cinta padamu melalui diskusi-diskusi kita, melalui untaian kata yang kau rangkaikan lalu kubaca, melalui sikap, tanduk, cara, langkahmu yang kuperhatikan diam-diam.
Mengenalmu, entah kenapa membuatku percaya. Bahwa ada seseorang yang bisa memahami pemikiranku, kedaulatanku atas diriku sendiri, & harapanku tentang relasi perempuan-laki2, istri-suami yang ideal. Karena itu aku jatuh cinta. Jatuh cinta dengan segala logika, jatuh cinta secara sadar dan rasional.
Maka rasioku terus membututi jari jemariku. Agar tetap menjaga sikapnya, agar tidak mengirimkan sinyal yang belum waktunya menyala. Rasio yang mengolah cinta dan rindu, menjadi keseharian biasa, tanpa harus menggebu, tanpa harus menuntut. Aku menunggu, aku menahan. Bukan berarti aku tak mau berjuang. Hanya saja aku belum selesai membacamu.
Pada saatnya nanti, bila lembar-lembar bukumu telah habis kubaca. Jika aku berhasil sampai ke endingnya, bisa jadi cintaku terungkap, cintaku terjawab, cintaku terbalas.
Namun jika tidak, biar aku menikmati kembali rasanya patah hati, menggali pembelajaran untuk melangkah lebih pasti. Patah hati hanya proses yang harus dilewati, sedang bangkit adalah keniscayaan. Begitulah logikaku menjanjikan.
Kamis, 27 Desember 2012
Rabu, 17 Oktober 2012
Buat Apa
Ada seseorang yang membuatku menyetel aplikasi skype untuk selalu sign in begitu aku menyalakan leptop. Dia pergi, membawa pesanku untuk meng add akunku. Benar saja, tak lama dia mengadd, dan akupun menerimanya. Sejak saat itu, akunku selalu menyala, seiap saat leptop ini menyala
Namun buar apa, akunku selalu sedia, buat apa namanya tertera di list kontakku, kalau dia tak pernah menyalakan akunnya, dan kami tak pernah bersapa lagi di dunia maya.
Namun buar apa, akunku selalu sedia, buat apa namanya tertera di list kontakku, kalau dia tak pernah menyalakan akunnya, dan kami tak pernah bersapa lagi di dunia maya.
Selasa, 18 September 2012
Cinta di Atas Bukit 3
Topeng di
wajahku semakin menipis. Aku melangkahkan kakiku cepat-cepat meninggalkan
gerbang sekolah. Syukurlah tak banyak kawan yang kukenal yang harus kulewati.
Entah apa aku masih bisa mengumbar senyum di tengah kegundahan dan kesedihan
hati ini.
Aku berlari
kecil menuju gundukan tanah menyerupai bukit di belakang gedung sekolahku.
Tempat di mana aku tanpa sepengetahuan kawan-kawanku biasa menghabiskan sore
sendirian. ‘Bukit’ ini tidak terlalu jauh dari sekolah, namun entah kenapa tidak
banyak orang yang datang ke sini. Mungkin desas-desus mengenai keangkeran
tempat ini membuat dia kehilangan pengungjung. Meski demikian ‘bukit’ ini masih
memiliki seorang pengunjung setia. Aku.
Sesampainya
di puncak, aku langsung duduk di bawah satu-satunya pohon di sini. Menumpahkan
segala gundah dan kesedihan melalui air mata yang kini tumpah tanpa bisa
kutahan. Kulepaskan topeng yang sedari tadi kukenakan. Tidak ada lagi senyum
yang terpaksa kulengkungkan. Tidak ada lagi keceriaan yang kubuat-buat selama
seharian ini.
Pagi tadi
aku terbangun dan mendapati Mama sedang berbicara di telefon dengan seorang
Bude.
“Aku sudah
tidak bisa lagi mempertahankannya, Mbak. Hatiku selalu sakit ketika
membayangkannya tidur dengan perempuan lain.” Suara Mama seketika berubah
menjadi isakan kecil. Mama hening sejenak sebelum melanjutkan, “aku rasa
satu-satunya jalan adalah cerai. Besok aku akan urus ke pengadilan.”
Aku
terhenyak. Tanpa kusadari kututup pintu kamarku dengan cukup keras. Aku kembali
ke tempat tidur, menutup kupingku kencang-kencang, dan setengah mati menahan
tangisan. Rupanya suara pintu yang kututup menyadarkan Mama bahwa anak semata
wayangnya sudah bangun dan mendengarkan percakapan di telefon barusan. Mama
langsung menyudahi pembicaraan dengan Bude, dan perlahan masuk ke dalam
kamarku.
Aku masih
terdiam. Masih dalam posisi kedua tanganku menutupi kupingku. Mama
menghampiriku. Tangisannya membuatku tersadar, dan meengok ke arahnya. Mama
memeluku, seraya berbisik, “kita harus kuat, Nak. Selama kita berdua kita pasti
kuat.” Aku pun membalas pelukannya dan berjanji dalam hati, ‘aku harus kuat di
hadapan Mama. Aku tidak boleh menangis di depannya.’
Begitulah,
aku tetap menjadi gadis Mama yang ceria, yang tak pernah pelit menumbar senyum
dan sapa, dan tak pernah bosan mendengarkan kawan-kawanku yang seringkali
berkeluh kesah dengan masalah mereka. Rani yang berkeluh kesah uang jajannya
dipotong karena pulang malam, atau Risa yang mengeluh karena tidak dibelikan
ponsel keluaran terbaru. Seandainya mereka mengetahui masalahku. Sempat
terlintas keinginan untuk menceritakan kepada mereka, tapi sulit rasanya
mengungkapkan segala sesuatu yang masih menyesak di dada.
Seharian ini
aku tak sabar menunggu bel pulang, agar aku bisa menumpahkan segala air mataku
di bukitku. Aku hanya butuh meluapkan segala kesedihanku, melepaskan segala
gundahku, agar aku merasa lega. Aku sengaja menyembunyikannya dari
sahabat-sahabatku. Aku tidak ingin mereka bertanya-tanya. Aku tak butuh
ditanya.
Tiba-tiba saja aku merasakan ada seseorang
yang duduk di sebelahku. Aku mengangkat wajahku dan melihat Ega, salah satu
teman sekelasku. Dia tersenyum kaku, namun tidak mengucapkan apapun. Aku hanya
membuang mukaku. Berusaha menyembunyikan wajah tanpa topengku. Mengira-ngira
apa yang akan dilakukan atau dikatakan oleh Ega.
Namun Ega
hanya diam. Bahkan dia tidak memandangiku. Sekilas aku melihatnya memainkan
rerumputan yang menjadi alas duduk kami. Sekilas lagi aku melihatnya menerawang
menatap angan. Kehadiran Ega begitu hening, seakan dia tidak ingin
menggangguku. Namun dia tetap di sisiku. Tak beranjak sedetikpun meski
keheningan di antara kami sudah berlangsung hampir empat jam.
Sore lalu
beranjak menjadi senja, dan malampun menjelang. Hingga bulan telah muncul
dengan sempurna, Ega tetap di sampingku. Akhirnya aku mengangkat wajahku dan
mencoba menatapnya. Diapun menatap ke arahku, tersenyum ragu-ragu. Kali ini aku
membalas senyumannya. Lalu senyumnya perlahan tak lagi ragu-ragu.
Aku menghela
nafas panjang sebelum akhirnya kutemukan bibirku bersuara.
“Ga bosen di
sini?” tanyaku pada Ega
“Nggak kok,
tempatnya bagus, anginnya juga enak,” jawab Ega.
Sejenak kami
terdiam. menikmati apa yang melintas di pikiran kami masing-masing.
“Eh, maaf ya
kalo aku ganggu. Aku ga bermaksud ganggu kamu, tapi aku pikir, ga akan aman
ninggalin kamu sendirian di sini,” ucap Ega gugup.
Aku
tersenyum seraya menjawab, ”kamu sama sekali ga ganggu kok.”
Lalu Ega
tersenyum lagi. Detik itu aku menyadari betapa menariknya senyuman Ega. Bersamaan
dengan aku menyadari bahwa di balik kacamatanya, ada mata yang begitu teduh
menenangkan.
“Kamu sering
ke sini?” kata Ega lagi.
Aku menjawab
dengan anggukan.
“Hmm, kalau
emang aku ga ganggu, boleh aku tetap di sini, nemenin kamu?” tanyanya.
Lagi-lagi
aku hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Seraya berbisik di dalam hati, wahai bukitku, kali ini kamu mendapatkan
pengunjung baru.
On the night like this, There are so many things I wanna tell you
On the night like this, There so many things I wanna share you
Cause when you’re around, I feel safe and warm
Cause when you’re around, I can fall in love everyday
In the case like thisThere a thousand good reasons, I want you to stay.
(On The Night Like This- Mocca)
Sabtu, 15 September 2012
Pertama dan Terakhir
Gigitanku di
bibir bawahku semakin keras karena setengah mati menahan tangis. Meski tak
sanggup tersenyum, namun takkan kubiarkan sebutirpun air mata jatuh di
hadapanmu. Sementara kamu hanya diam memandangiku. Tanpa kamu sadar bahwa aku
sudah hampir tak kuat berdiri.
Kamupun menarik
napas panjang, sebelum berkata, “Ras, kamu berhak mendapatkan seseorang yang
lebih baik.” Akhirnya kalimat klise itu keluar juga dari mulutmu. Kalimat yang
membuatku tertawa miris. Dari dulu aku paling muak dengan alasan semacam itu. Jangan
kamu pikir aku tak tahu. Intinya kamu berhenti menginginkanku, itu saja. Alasan
‘berhak mendapatkan yang lebih baik’ hanyalah omong kosong.
Namun aku
tak mendebatmu. Hanya tersenyum sekilas, dan berlalu meninggalkanmu. Aku tak
lagi bertanya-tanya apa yang membuatmu berubah. Tak lagi mencari-cari
kesempatan untuk tetap mempertahankan hubungan kita. Kalimat klisemu berarti
satu, kita telah usai. Itu saja.
Tiba di
rumah, aku menangis sejadi-jadinya. Merasakan segala harapan yang hancur lebur
berantakan. Segala gengsi dan tinggi hati yang tadi terjaga rapi di hadapanmu,
kini runtuh. Hanya menyisakan air mata dan sesak di dada, yang entah berapa
lama harus kurasa. Karena aku masih begitu mencintaimu, sangat mencintaimu.
Bayangan
tentangmupun muncul layaknya adegan demi adegan film yang diputar di dalam
sanubariku. Dimulai ketika kita pertama kali bertemu. Masih begitu jelas,
seakan baru terjadi kemarin.
Hari itu,
seperti biasa aku berangkat ke kampus dengan angkutan umum. Di dalamnya tidak
terlalu ramai, namun tidak terlalu sepi. Ada aku, kamu yang duduk tepat di
depanku, seorang ibu dengan dua anak perempuannya, seorang Bapak bertubuh
gempal, dan seorang perempuan muda yang usianya mungkin sama denganku. Di tengah
perjalanan, seorang pengamen kecil naik dan menyanyikan lagu Darah Juang. Aku merogoh
tas ranselku. Meraih sekotak susu UHT rasa coklat yang memang selalu kusediakan
untuk adik-adik kecil yang mengamen di angkutan umum.
Selesai bernyanyi,
sang pengamen cilik menjulurkan tangannya untuk meminta recehan. Ketika tangan
itu sampai di hadapanku, aku mengulurkan tanganku yang sedari tadi masih tersembunyi
di dalam ransel seraya memegang susu coklat untuknya. Namun kulihat susu
coklatku tidak sendirian. Ada susu coklat lain yang terulur untuk si pengamen
cilik, dengan merk yang sama, ukuran yang sama, bahkan rasa yang sama, dari
tanganmu.
Kita pun
saling bertatapan dan tersenyum sekilas. Sementara si pengamen kecil tidak
segera merih dua susu coklat yang diulurkan kepadanya.
“Eh, saya
ambil yang mana ya?” katanya bingung.
“Hmmm, ambil
dua-duanya aja Dik,” ucapmu seraya tersenyum hangat.
“Yang satu kan
bisa diminum besok, atau bisa juga dibagi ke temanmu,” aku pun ikut menimpali.
Si pengamen
kecilpun meraih kedua kotak susunya sambil tersenyum, sebelum kemudian turun
dari angkutan umum, dan berlari-lari riang ke tepi jalan.
Sejak detik
itu, aku jadi memperhatikanmu. Kamu bukanlah pria tampan dalam khayalanku. Berwajah
jawa, berhidung tidak terlalu mancung, dengan celana bahan, dan kemeja
sederhana. Hanya saja entah kenapa kesederhanaanmu membuahkan kehangatan.
Tak terasa
angkutan umum yang kita tumpangi sudah sampai di depan jalan kampusku. Ternyata
bukan hanya jalan kampusku, melainkan jalan kampus kita. kamu turun di tempat
yang sama, dan kita menyeberang bersamaan. Akhirnya, kitapun memutuskan untuk
berjalan beriringan.
“Kuliah di
sini juga? Tanyamu.
“Iya,”
jawabku.
“Fakultas
apa?” tanyamu lagi
“Fisip. Kamu?”
kali ini aku ikut bertanya.
“Teknik,”
jawabmu.
Lalu kita
sempat terdiam. Canggung, mencari bahan pembicaraan.
Tiba-tiba
kamu mengulurkan tanganmu.
“Ohiya, kita
belum kenalan. Aku Alan,” ucapmu, lagi-lagi dengan senyummu yang begitu hangat.
“Aku Laras,”
ucapku sambil memamerkan senyum termanis yang kumiliki.
Perkenalan
kita, yang berlanjut menjadi sebuah pertemanan. Ketika hari-hariku akhirnya
selalu diisi denganmu. Berangkat dan pulang kampus bersama, Makan siang di Fakultas
Ilmu Budaya, yang letaknya di antara kampusku dan kampusmu, berdiskusi tentang
banyak hal, hingga SMS-SMS manis yang setiap hari selalu memenuh inbox HPku.
Tanpa kamu
sadari, aku belajar banyak hal darimu. Kamu begitu bijaksana dalam melihat
setiap persoalan. Kamu selalu bisa membuatku yakin ketika aku ragu-ragu dalam
membuat keputusan. Kamu mengajarkanku untuk berpikir positif, dan berani
mengambil kesempatan yang ada di hadapanku. Kamu selalu bisa membuatku
bersemangat dan percaya bahwa tak ada yang tak bisa aku lakukan, asal aku mau
berusaha.
Aku yang
sejak awal terkesan denganmu, kemudian mengagumi, dan secara perlahan namun
pasti, jatuh cinta kepadamu. Tak kukira cintaku terbalas. Setelah dua tahun
kita saling mengenal, kamu mengungkapkan perasaanmu. Hari itu adalah hari
paling bahagia untukku. Kamu cinta pertama untukku, pacar pertamaku, pria
pertama yang kuizinkan masuk ke dalam hatiku di usiaku yang tak lagi remaja.
Seandainya kamu
ingat. Sesaat setelah kita jadian dulu, kita saling bergenggam tangan, seraya
mendengar sebuah lagu. Aku sempat berbisik di telingamu, memintamu menyimak
sepenggal lirik lagu itu, “Tuh, dengerin ya Lan.” Kamu hanya tersenyum, seraya
membelai rambutku.
Bila suatu saat kau harus pergi
Jangan paksa aku tuk cari yang lebih baik.
Karena senyumu menyadarkanku
Kaulah cinta pertama dan terakhirku
-Sherina-
Rabu, 12 September 2012
Cinta di Atas Bukit 2
Namamu Fajar Pandega. Fajar artinya pagi. Sebagaimana aku
selalu menanti pagi yang hangat, seperti itu pula aku menghitung hari menanti
kepulanganmu. Semenjak hari itu ketika kita bertemu di bukit belakang sekolah. Sebuah
gundukan rumput saja sebenarnya. Tempat kita biasa berbagi cerita, berbagi rasa
berbagi mimpi.
Kita duduk berdua di bawah satu-satunya pohon yang ada di
sana. Tempat favorit kita, seperti biasa. Tapi ada yang tidak biasa. Kamu tampak
gelisah. Tatapan matamu menerawang tak tentu arah. Aku mencoba menerka, namun
ternyata aku tak mampu membaca.
Hari ini, kita merayakan kelulusan kita berdua saja. Dalam hening
yang menyenangkan, menikmati lagu indah dari semilir angin dan dedaunan yang
saling bergesekan. Kamu tahu? Hanya denganmu aku merasa nyaman untuk melakukan
apa saja. Bahkan dalam kesunyian di antara kita. Dari dulu aku percaya,
kesunyianan bukan berarti canggung. Namun baru denganmulah aku bisa menikmati
kesunyian, tanpa kekakuan. Kita tak perlu bicara, hanya duduk berdampingan, dan
sama-sama menikmati keindahan yang tercipta di sekitar kita.
Lalu, tiba-tiba suaramu memecah keheningan.
“Kar, setelah wisuda nanti, aku akan langsung meneruskan
studiku.”
“Ohya? Wiihh, Hebat. Beasiswa? Selamat ya,” seruku senang.
Kamu tersenyum sekilas. Sekilas saja. Aku bertanya-tanya.
Bukankah seharusnya kamu gembira? Bukannya kamu tidak terlihat bahagia, hanya
saja sepertinya ada hal yang berat yang mengganjal di benakmu. Aku tersenyum
seraya memandangmu, lagi-lagi mencoba menerka, menyelidiki apa yang ada di
balik wajahmu.
“Kar, aku akan S2 di Australi,” ucapmu sangat pelan dan
hati-hati.
Namun telingaku sanggup menerima ucapanmu. Mencernanya di dalam
otaku. Aku terdiam, menahan segala rasa yang tiba-tiba bergejolak di hatiku,
menuntut untuk diteriakan. Bibirku menjadi kelu. Namun aku tetap mencoba
tersenyum. Entah seperti apa senyum itu di matamu, mungkin terlihat palsu. Tapi
asal kamu tahu, saat itu aku berusaha keras membentuk lengkungan manis di
bibirku.
Di depan mataku terbersit bayangan perpisahan. Aku tak mampu lagi
mengendalikan setiap kata yang terucap dari bibirku setelah itu. Jiwaku
tiba-tiba hampa, ada yang pergi entah kemana.
Dan di sinilah aku, di bukit kita, hampir setiap pagi. Melewati
pagi demi pagi. Mencoret tanggal demi tanggal, menghitung hari, menantikan
kedatanganmu.
Seandainya saat itu aku tak menahan rasaku yang bergejolak. Seandainya
aku meneriakan apa saja yang ada di benakku.
Pagi, jangan pergi,
Kutakut malam nanti ku masih sendiri
Dan pagimu tak lagi indah
(Pagi, by Dialog Dini Hari)
Minggu, 09 September 2012
Cinta di atas Bukit 1
Kalau
bukan dia, mungkin sampai kapanpun aku tak akan pernah siap
Ega,
Bogor, 9 September 2012
Seperti biasanya bukit kami selalu indah. Ah, tentu
saja bukan bukit sungguhan. Hanya segunduk tanah di belakang sekolah kami dulu.
Rerumputan yang tumbuh tak beraturan, lalu di berbagai tempat bunga-bunga yang
tumbuh mulai bermekaran. Tapi keindahan bukit ini bukan sekedar di rerumputan
hijaunya. Bukan pula di bunga warna warni yang tengah bersemi.
Sekar. Sahabatku, yang diam-diam juga telah menempati
sebuah ruang besar di dalam hatiku. Kekasihku.
“Angin di sini tu selalu pas ya. Ga teralu kencang,
tapi juga cukup sejuk,” ucap Sekar.
Kata yang selalu dia ulang setiap kami melewatkan
waktu berdua di bukit. Entah sejak kapan tepatnya, aku tak mencatat tanggalnya.
Sejak aku menemukannya menangis seraya duduk di atas batu. Sekar yang populer dan
terkenal sebagai perempuan yang ceria dan selalu tegar. Tempat kawan-kawannya
mencurahkan perasaan, dan selalu diladeninya dengan sabar dan bijaksana. Sebelumnya
aku jarang berinteraksi dengannya. Namun sejak aku melihatnya berair mata dan
memberanikan diri duduk di sampingnya. Sejak saat itu, tanpa terucap, kami
selalu kembali ke bukit kami. Berdua, sekedar menikmati semilir angin, dan
mengawasi hampir setiap tangkai bunga yang tumbuh di sekitar satu-satunya pohon
di bukit kami. Tempat favorit kami.
“Ga, Ga, tuhkan, kamu pasti ga denger ya aku
ngomong dari tadi?”
“Eh, Maaf Kar, kenapa?”
“Kamu tu tumben amat bengong gitu, dari tadi
ngeliatin aku ga jelas. Katanya ada yang mau diomongin?”
***
Sekar,
Bogor, 9 September 2012
Angin di bukit kami tak pernah berubah.
Satu-satunya tempat dimana aku merasa nyaman, dan bahkan merasa bisa menjadi
diriku sendiri. Bebas mengkhayal dan bermimpi. Apalagi sejak dia muncul di
dalam hidupku. Berbagi berbagai hal tanpa merasa sungkan, tanpa merasa
khawatir. Ega. Si kutubuku sekolah, yang setiap hari duduk di kursi paling
depan. Dulu kami jarang bertegur sapa. Matanya selalu berada di balik buku. Bahkan
waktu istirahatpun, seringkali dia lewatkan dengan membaca.
Lalu suatu hari secara ajaib dia hadir ke hidupku.
Ketika aku sedang sedih menghadapi perceraian Mama Papaku. Aku hanya bisa
mengadu melalui air mata yang kutumpahkan ketika ku sendirian. Saat itulah aku
merasa ada seseorang duduk di sebelahku. Ega, dia hanya memandangku, dan
tersenyum malu-malu. Lalu perlahan senyumnya tak lagi ragu-ragu. Tanpa
bertanya, tanpa bicara, dia tetap di sisiku. Tidak memaksaku bercerita, dan
membiarkanku menumpahkan air mata.
Sejak saat itu, kami pun selalu menikmati bukit
kami. Meski kelulusan tak terelakan, dan kami melanjutkan studi kami di kampus
masing-masing. Namun tanpa janji, setiap minggunya, bukit kami selalu menjadi
tempat sempurna untuk kami berdua.
Selama dua tahun, kami terpaksa pergi sendiri-sendiri.
Lantaran setelah lulus kuliah, Ega memutuskan untuk melanjutkan studinya di
luar negeri. Ketika dia pulang, justru aku yang berhasil mendapatkan beasiswa
yang kuincar sejak aku di tingkat akhir S1 ku. Begitu aku kembali, Ega langsung
menelfonku meminta bertemu. Dia berkata ada hal yang ingin disampaikan. Entah
kenapa, sejak telefonnya itu, jantungku berdegup tak karuan.
Di sinilah kami sekarang, di bukit kami. Namun
sejak tadi, Ega lebih banyak diam. Sempat dia menatapku, kukira dia
mendengarkanku bicara. Tapi jangankan mendengar kata-kataku. Sepertinya
pikirannya berkelana entah dimana.
“Ga, kok bengong lagi si?”
“Maaf Kar. Ada yang ingin aku bicarakan, serius
denganmu.”
Deg, jantungku berdegup semakin cepat. Tatapan Ega
tajam menuju mataku, dan terasa hingga ke jantungku.
***
Ega,
Bogor, 30
Juli 2010
Kami baru saja lulus kuliah. Aku langsung
mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2ku. Hari ini, aku bertekad untuk menyampaikan perasaanku
pada Sekar. Perasaan yang entah sejak kapan muncul di dalam hatiku. Mungkin
karena terbiasa, mungkin juga sudah tumbuh sejak awal kami betemu.
“Ga, ga
terasa ya, akhirnya kita lulus kuliah.”
“Yup! Empat tahun selesai, kuliah beres, tinggal
kerja, terus kawin deh.”
“Huahahaha, kawin?”
“Yaiyalah, emang kamu ga kepengen kawin?”
“Belom siap Ga.”
“kenapa?”
“Aku belum siap melepaskan semua mimpi-mimpi aku.”
“Loh, emangnya kalo kawin kamu harus melepaskan
mimpi-mimpi kamu?
“Yah, kamu kayak ga tau aja di Indonesia ini, perempuan
tu dibebankan pekerjaan rumah tangga. Jadi kalau udah nikah, ujung-unjungnya
pasti sibuk ngurusin suami, ngurusin anak, dan lain sebagainya. Kalo sudah begitu,
impian-impian aku yang banyak itu, kapan dikejarnya?”
“Hahaha, emang pasti gitu? Cari suaminya jangan
yang patriarkis donk.”
“Nah itulah susahnya di Indonesia. mana ada cowok
yang mau ngerti kalau kerjaan rumah tangga tu juga pekerjaan laki-laki. Bahwa
masak, nyuci, dan lain sebagainya itu juga ga aneh kalau dikerjakan laki-laki.
Coba, mana ada laki-laki yang ketika istrinya ingin menggapai mimpinya,
sementara ada kebutuhan pengasuhan dan pendidikan anak, terus demi mendorong si
istri menggapai mimpi dia mau berhenti kerja dan mengurus anaknya plus mengurus
rumah tangga?“
“Jadi kamu pengen punya suami yang mau di rumah,
sementara kamu sibuk mengejar impian kamu di luar rumah?”
“Ya ga gitu juga, kan bisa diomongin sama-sama.
Impianku apa, impian suamiku apa, kapan kita bisa sama-sama lari, kapan kita
harus gantian lari. Tapi kenyataannya selama ini kan ga ada laki-laki yang
mendukung istrinya seperti itu. Ngasih izin aja, udah dianggap mendukung,
padahal kan ga sesederhana itu. Sebaliknya, perempuan selalu dituntut untuk mau
berkorban dalam situasi seperti itu.”
Aku terdiam menyimak ucapanmu. Tidak mengangguk,
tidak pula membantah.
“Kecuali kalau”
“Kalau apa?”
Sekar hanya diam tak menjawab, lalu malah sibuk
menceritakan pengalaman barunya sebagai wartawan.
Kalau saja aku tetap maju. Tetap menyampaikan
perasaanku, mengajaknya menikah, dan membawanya menyertaiku menjalani studiku
ke negeri kanguru. Tapi aku terlalu takut akan penolakan. Aku melewatkan
kesempatan itu.
***
Sekar,
Bogor, 30 Juli 2012
Aku yang diam-diam memendam rasa sejak SMA, ingin
menyampaikan perasaanku pada Ega. Hari ini, di bukit kami, kubulatkan tekadku.
Kukuatkan hatiku, aku tak peduli, risiko apapun yang akan datang, aku tak bisa
diam lagi. Namun ternyata, tekadku bisa kandas juga. Ega pamit untuk
melanjutkan studinya ke Australia. Membuatku tiba-tiba merasa hampa.
Lalu entah bagaimana, kami bicara soal pernikahan.
Secara spontan dan salah tingkah aku bilang aku belum siap, dengan segala
alasan yang kubuat, yang sebenarnya bisa terbantahkan kalau saja.
“Kecuali
kalau”
“Kalau apa?”
Seandainya aku berani, mengucapkan kata-kata yang
menyangkut di kerongkonganku, ‘kecuali
kalau kamu yang menjadi suamiku.’
***
Ega
Bogor, 9 September 2012
Inilah saatnya. Aku yakin sekaranglah waktu yang
tepat. Aku tahu risikonya. Tapi aku tak sanggup kehilangan kesempatan untuk
meraih impianku. Dua tahun lalu aku melewakan kesempatanku. Tapi tidak kali
ini.
Sekar
Bogor, 9 September 2012
Ega, seandainya dia tahu. Sejak dia jauh, aku
terpaksa mendatangi bukit kami sendirian. Berbicara dengan angin, berharap
angin bisa menerbangkan rinduku kepadanya yang di seberang lautan. Sejak saat
itu aku mengerti rindu, sejak saat itu aku tahu rasanya cemburu.
Ega, apakah gerangan yang ingin dia sampaikan.
Entah kenapa, harapan-harapan tentang dia, tentang rasaku padanya muncul
tiba-tiba. Aku tak sanggup menahan degup jantungku yang begitu kencang. Aku
takut dia mendengar.
***
Ega dan Sekar,
Bogor 9 September 2012
“Sekar, aku ingin kamu menjadi istriku.”
Sekar terdiam. Tak menjawab, hanya pipinya yang
terlihat merona, dan matanya yang bersinar lembut.
“Aku mencintai kamu, Sekar. aku mencintai impianmu,
termasuk mencintai segala risiko menjadi suami kamu.”
“Ga,”
“Aku serius Sekar. Ga ada yang lebih membuat aku
bahagia, selain dengan membahagiakanmu. Dan ga ada yang paling aku inginkan,
selain mengejar mimpi dan menjalani hidup bersamamu.
“Ga, sekarang giliran aku yang bicara. Aku mau.”
“Serius? Tapi kamu..." Suara Ega terhenti.
Sekar menatap Ega, dengan pandangan bertanya.
Kamu, siap nikah kan?”
Sekar tersenyum. matanya menatap Ega lembut, dengan penuh keyakinan, dia menjawab,
“Iya, Ga, kalau denganmu, aku siap. Aku tau kamu,
aku tau cara kamu memandang relasi suami istri. Aku tau impianmu, dan aku
yakin, impianmu, impianku, akan menjadi impian kita, dan kita bisa raih
bersama.”
Ega pun memeluk Sekar. Mendekapnya lembut,
merasakan setiap energi cinta yang mengalir di antara mereka.
“Aku akan membahagiakanmu Kar,” janji Ega.
“Kalau bukan kamu Ga, mungkin sampai kapanpun aku
tak akan pernah siap,” bisik Sekar.
***
Terinspirasi dari lagu Perahu Kertas, Maudy Ayunda
Betapa ajaib
hidup ini
Mencari-cari
tambatan hati
Kau sahabatku
sendiri
Hidupkan lagi
mimpi-mimpi
Cita-cita
Berdua ku bisa percaya
Kamis, 09 Agustus 2012
Dua Kata
Hanya ada dua kata darimu malam ini. dua kata yang aku sendiri tak mengerti. dua kata yang memang tidak ditujukan kepadaku.
Tapi aku, demi menangkap dua kata itu menggerakan jemariku begitu perlahan. menyimak deret demi deret huruf dalam dunia seluas 140 karakter, menyelami ratusan atau mungkin ribuan kata lainnya. Baru akhirnya sampai ke dua kata itu.
Dua kata yang tak kumengerti artinya, dua kata yang bukan untukku. Tapi tetap saja menggetarkan semua bagian hatiku, memercik di setiap relung jiwaku, mengaliri setiap jengkal tubuhku.
Lalu keluar, berupa air bening, yang menyeruak dari kedua sudut mataku
Ah, aku rindu kamu
Tapi aku, demi menangkap dua kata itu menggerakan jemariku begitu perlahan. menyimak deret demi deret huruf dalam dunia seluas 140 karakter, menyelami ratusan atau mungkin ribuan kata lainnya. Baru akhirnya sampai ke dua kata itu.
Dua kata yang tak kumengerti artinya, dua kata yang bukan untukku. Tapi tetap saja menggetarkan semua bagian hatiku, memercik di setiap relung jiwaku, mengaliri setiap jengkal tubuhku.
Lalu keluar, berupa air bening, yang menyeruak dari kedua sudut mataku
Ah, aku rindu kamu
Langganan:
Postingan (Atom)