Halaman

Selasa, 24 Januari 2012

Istimewa


Hai, apa kabar?
Kamu yang selalu datang sesekali, menyapa, bertanya, lalu pergi lagi. Terakhir, kamu bertanya tentang kesibukanku saat ini. Klise, seperti biasa. Tak ada yang istimewa, tak ada salam hangat, apalagi kalimat mesra.

Ingatkah kamu kapan pertama kali kita bertemu? Kira-kira empat tahun yang lalu. Kamu datang ke kampusku, urusan organisasi. Aku? Jangankan terpesona, melirikmu saja tidak. Saat itu aku  hanya berusaha menjadi tuan rumah yang baik, dan selebihnya sibuk membuat kajian dan perencanaan kegiatan.

Lalu kita bertemu lagi, di sebuah acara televisi. Kamu ingat? Kita terlambat saat itu. Aku dan kamu mengeluarkan pendapat berbeda. Dan entah berapa juta pemirsa menyaksikan perbedaan kita. Selesai acara, kita tak langsung pulang. Berbincang sebentar, aku, kamu, kawanku, dan kawan-kawanmu. Membahas sebuah kebijakan, yang kalian mau memantaunya, sementara kami masih mati-matian menolaknya. Tak puas berdiskusi, lantas kita bertukar nomor ponsel.

Tak membutuhkan waktu lama menunggumu menghubungiku. Kita ber-sms, diskusi tentang kampus sampai tentang kebijakan nasional. Selalu terselip pertanyaan apa kabar, serta sedikit detil basa basi, yang menghadirkan senyum di wajahku, dan desir hangat di hatiku. Manis, menyenangkan, namun tak pernah terlalu spesial.

Beberapa hari yang lalu, setelah satu tahun kau tak pernah menyapaku, tiba-tiba namamu muncul di list smsku. Singkat, hanya meminta pin BBMku, dan diakhir pesan, kamu tuliskan namamu. Seakan kamu berpikir aku tidak menyimpan nomormu di phonebook ku. Lalu request mu datang, diikuti dengan sapamu. Itu terakhir kali kita berbincang. Lewat layar kecil, bermodalkan papan qwerty. Percakapan biasa, tentang kesibukanku. Klise, tak istimewa.

Dalam hati aku bertanya entah kapan aku akan menemukan sapamu kembali. Tapi kapanpun kamu datang lagi, bolehkah aku meminta? Sedikit saja kata istimewa. Sedikit saja, agar aku merasa, kita, istimewa.

25 Januari 2012
Untukmu yang istimewa

Senin, 23 Januari 2012

Kota Sejuta Angkot


Hai Bogor. Apaka kabar?
Apakah kamu masih sejuk seperti dulu, ketika hujan sering turun, dan membuat rumput-rumputmu membasah indah. Sementara ketika hujan tak turun, kamu begitu terik. Lalu bertambah panas dengan angkutan umum berwarna hijau yang berseliweran memadati tubuh-tubuh jalananmu. Masihkah kamu menyediakan malam-malam indah? Dengan berbagai tempat makan murah meriah, dan yang teristimewa, tentu saja coklat panas di Taman Koleksimu. Sempurna, tak ada duanya.

Ah, kamu memang menyimpan banyak cerita untuku. Persahabatan, hingga cinta. Apakah kamu ingat ketika kami berkumpul bersama di awal sebuah kepengurusan? Mencoba saling mengenal. mengakrabkan diri, lalu saling menabrak dengan bom-bom car Taman Topi. Secara tak terencana kami masuk ke museum zoology. Kamu pasti ingat. Ketika beberapa dari kami merayu petugasnya untuk mendapatkan tiket murah. Karena kami hanya akan ke museum, tidak ke Kebun Raya. Tiket murah itu, akhirnya kami dapatkan dengan modal KTM (ups, sekarang jadi berasa curang, hehe). Lapar, kamipun berpindah ke Taman Kencana, saling bicara, juga bernyanyi lagu milik kami sendiri. Menikmati ayam bakar, sebelum akhirnya berlari-lari kecil karena titik-titik air mulai membasahimu. Hujan menuntun kami masuk ke kedai Makaronimu yang terkenal, berbagi menu andalannya, sambil menyeruput coklat panas.

Tahun berikutnya, aku kembali lagi, tak bosan-bosanya. Kali ini bersama kelompok lain, meski beberapa personel sama. Lagi-lagi saling tertawa menabrakan diri dengan bom-bom car. Lalu menuju rumah sahabat kami. Numpang makan siang, dan berbincang. Aku tak tahu pesona apa yang ada di dirimu, hingga membuat kami yang baru mengenal beberapa bulan, merasa cukup akrab untuk bercerita apa saja. Cita-cita, cinta, bahkan masalah keluarga. Beberapa kali aku menggigit bibir menahan tangis mendengar cerita mereka, juga ketika menceritakan ceritaku. Mereka, sahabat-sahabatku tak tahu. Tapi kamu tahu Bogor, kamu menyaksikannya.

Apakah kamu ingat satu hari di bulan puasa. Aku hampir kau buat menyerah. Ketika terikmu membakar ubun-ubun hingga tenggorokanku. Rasanya aku ingin memutus puasaku. Tapi tidak. Tuhan telah begitu baik memberikanku persahabatan yang indah, yang mengantarkanku menapaki terik panasmu. Hari itu, aku bersama seorang sahabat menuju kampus negeri terbesar yang kau miliki. Menghadap rektornya. Dan perjalanan tiga jam itupun, berbuah sebuah video tiga menit. Sang rektor, ayah dari sahabat kami, memberikan tiga menit pesan kesan untuk anaknya yang akan berulang tahun.

Wahai Bogor, setiap perjalananku dengan kereta, selalu menumbuhkan berbagai kenangan, jauh sebelum sampai menyentuh bumimu. Pernah aku berdesak-desakan dengan rombongan orang-orang berjubah putih dan berpeci yang jumlahnya ribuan. Pernah aku berdiri tenang, tertawa bersama sahabat-sahabatku, berimajinasi panjang, dan geleng-geleng keheranan melihat sahabat kami belajar untuk ujian sambil berdiri di kereta. Pernah ada satu masa dimana aku menatap nanar perjalanan panjang. Merasa terpaksa menemuimu, di tengah patah hatiku yang belum sembuh. Karena kamu menyimpan kenangan yang mampu membuat lukaku terbuka kembali.

Ada masa dimana aku begitu mengagumimu, jatuh cinta padamu, dan terpikir untuk tinggal dalam buaianmu. Ingatkah kamu ketika aku menjelajahi beberapa sudutmu? Sebuah kampus, sebuah taman, sebuah museum, sebuah masjid, sebuah GOR bulu tangkis, sebuah pasar, dan sebuah rumah dalam satu hari. Saat itu aku sedang kasmaran. Kamu pasti menyaksikan betapa debar jantungku berdegup terlalu kencang. Betapa sering aku tersenyum dan pipiku memanas. Kamu adalah titik awal, dimana perasaanku yang sudah dua tahun kupendam, rasanya ingin menumpah keluar. Lalu kamu menjadi titik awal, dimana sebuah hubungan indah berjalan, dan tiba-tiba hancur berantakan. Teramat singkat, teramat brutal, bahkan sebelum aku sempat tersadar.

Tapi tentu saja, ceritaku tak berhenti sampai di situ. Begitupun kesaksianmu. Kamu lihat kan, betapa kuatnya aku. Saat  aku berjalan tanpa menunduk. Daguku kuangkat, senyumku mengembang. Aku memasuki hall salah satu hotelmu, berjalan mantap ke arah pelaminan, dan memberikannya selamat. Tersenyum, aku tahu aku tulus, dan aku baik-baik saja. Kamu, menyaksikan aku tumbuh menjadi dewasa, menjadi matang, dan lebih bijaksana.

Maka saat ini, kapanpun aku menapakimu. Aku siap menorehkan berbagai cerita yang baru. Menciptakan langkah ringan, penuh canda tawa. Memasuki Kedai murah, memesan nasi tim dan es teh manis. Menjelajah hingga sore, menyeruput coklat panas terenak sedunia. Menunggu malam bersama kawan-kawan, lalu makan mie kari domba.

Mungkin kamu bukan kota terhebat yang kupilih tuk berlabuh. Namun selalu ada cerita tentang cinta dan persahabatan setiap kali aku menyentuh sudut-sudutmu. Semoga kamu tak pernah bosan untuk menyaksikan dan menyimpan kisahku. Karena aku akan tetap sering mengunjungimu.

24 Januari 2012
Untuk kota sejuta angkot
Aku yang menitipkan jutaan kenangan padamu

Minggu, 22 Januari 2012

Kepada Bintang


*Aku sebut saja kamu bintang. Karena aku suka bintang, dan karena bintang menyimpan kenangan kita berdua.

Dear Bintang,
Semalam hujan turun dengan deras, berawal dari gerimis, lalu tiba-tiba melimpah ruah begitu saja. Seperti biasanya hujan tak pernah menyisakan sedikitpun bintang di langit. Lalu tiba-tiba aku ingat kamu, yang kehadiranmu selalu kurindu, yang sosokmu tak pernah tewujud di hadapanku, namun bayanganmu selalu kekal dalam benak, hati, dan pikirku.

Dear Bintang,
Saat itu, langit begitu cerah penuh bintang. Kamu menggenggam erat tanganku, memanggil namaku, hingga membuat wajahku berpaling menatap wajahmu. Aku masih ingat dengan jelas dan begitu nyata. Saat kamu menatap ke dalam mataku, sinar matamu tak hanya sampai ke mataku. Namun merasuk lebih dalam, jauh ke dalam setiap relung hatiku. Membuatku terpaku, tak bergerak. Membuat perhatianku terkunci hanya tertuju padamu. Lalu bibir kamu bergerak perlahan, mengucapkan sederetan kata yang membuatku lebih terpaku dari sebelumnya.

“Aku cinta kamu”
Katamu malam itu.
Dariku, tak ada kata. Hanya senyuman salah tingkah, dan wajahku yang terasa memanas, serta tubuhku yang melemas. Lalu katamu, kamu memintaku menunggumu. Karena kamu harus berlalu, entah untuk berapa waktu. Kamu hanya berjanji tak akan lama. Bagiku tak akan lama sungguh ukuran waktu yang absurd, dan ternyata berbuah penantian yang begitu panjang.

Dear Bintang,
Aku tak hendak menumpahkan kesedihan seperti langit yang tengah menangis deras malam ini. Aku tak peduli apakah hujan akan terus turun, langit akan terus gelap, atau bahkan sekalipun bintang tak pernah datang lagi. Surat ini adalah surat cinta untukmu. Kekasihku yang selalu ada meski tak nyata, yang selalu aku tunggu meski aku tau tanpa kepastian. Kamu cinta yang pernah hadir ke dalam hidupku. Kamu cinta yang akan tetap aku tunggu. Untukmu, surat ini tak akan pernah berisi keluh tentang sebuah penantian. Surat ini tak akan pernah menceritakan tentang keputus asaan. Surat ini akan selalu menjadi surat cinta. Cintaku yang menunggumu. Selamanya.

Bekasi, 23 Januari 2012
Aku yang merindukan Bintang

Sabtu, 21 Januari 2012

Cieeeee Lamaran

Untuk Dewi Maya Sari ga pake bakti (@zezebel_laut)

Hai Demaaaaaaa
Cieee, yang hari ini lamaran. Hari ini cerah ya Dem, semoga secerah hati lo yang lagi berbunga-bunga. Gimana perasaan lo? Deg-degan kah? tapi yang pasti seneng donk ya? Sorry ya Dem, jadinya gw ga bisa bantu-bantu ‘ngerapiin’ keluarganya Fikri. Sempet geli juga si, ngeliat bahasa lo . ‘Ngerapiin’ tu maksudnya apa Dem? Hahaha. Mudah-mudahan gw keburu ngeliat detik-detik lo mengiyakan ya Dem. Beneran ga mau pake cara ‘gadis desa’ yang sok-sok nunduk, mesam mesem, ngeremes-ngeremes kebaya, terus ngangguk pelan Dem? :p Tapi ga kebayang juga si lo begitu. Secara, lo lebih Betawi dari gw yang beneran keturunan Betawi.

Pas nulis surat ini, gw sambil ngebayangin, lo lagi ngapain ya? Semalem jam 11 aja, lo masih bbm gw, ngirimin alur acara hari ini, minta pendapat kalo-kalo ada yang kurang. Jangan sampe mata lo hari ini jadi mata panda ya. Ah, tapi lo kan jago make up. Pasti bisalah diakalin. Lo pake baju apa ya? Kebaya? Terus gimana duduknya ya? Gimana ekspresi lo pas kedua perwakilan keluarga mulai ngomong. Ihhhhh, penasaran pisan gw. hehe.

Selamat ya Dem. Semoga hari ini bisa jadi awal pijakan komitmen yang serius dan indah antara lo sama Fikri. Semoga acaranya lancar, menyenangkan, dan berkesan. Semoga kalian terus langgeng, tidak hanya sampai tanggal 2 Desember 2012 (itu tanggal nikahan lo kan?), tapi juga seterusnya sampai maut memisahkan kalian.

Huhu, gw mau ditinggal sama Dema. Hayolo Dem, berhubung temen-temen banyak yang secara usia lebih tua dewasa daripada lo, siap-siap ‘pelangkah’nya ya Dem. Sayang gw ga kebagian karna gw masih terlalu muda. Hahaha

Selamat bertegang dan berbahagia Dema sayanggggg

22 Januari 2012
Nisaa sayang Dema

Donor Darah Pertamaku

Untuk Mbak Valencia Mieke Randa (@justsilly)

Hai Mbak, Selamat pagi/siang/sore/malam
*tergantung waktu Mbak (mudah-mudahan) membaca surat ini.

Sebelumnya perkenalkan, namaku Nisaa. Aku ‘pengikut’ tweet-tweet Mbak belum lama, baru sejak Oktober 2011. Meski baru sebentar, banyak inspirasi yang aku dapatkan dari Mbak. Aku belajar tentang kecerdasan, ketulusan, dan konsistensi luar biasa dan wujud tindakan konkret dari sosok Mbak. Aku yakin, sudah banyak pujian, yang memang pantas Mbak dapatkan dari banyak orang lainnya. Namun dalam tulisan kali ini, izinkan aku untuk tidak membahas tentang kehebatan dan sosok Mbak yang luar biasa. Karena bagaimanapun aku berusaha, aku tidak akan mampu menyaingi para wartawan yang menulis tentang Mbak. Lagipula, aku justru takut kata-kata akan membatasi ungkapan kekagumanku. Karena sepertinya, apapun yang aku tuliskan, tidak akan cukup untuk menggambarkan kekagumanku pada Mbak.

Karena itu, mudah-mudahan Mbak tidak keberatan, kalau kali ini aku bercerita tentang pengalaman pertama aku donor darah. Seumur hidupku yang sudah berlangsung 24 tahun lebih dua bulan, aku mengalami lima kali pingsan. Empat dari lima peristiwa pingsan itu diakibatkan karena darah. Jadi, setiap aku melihat darah, sedikit saja mengalir dari tubuh aku, aku langsung pusing, dan pingsan. Pada kejadian pertama, aku tak sengaja memecahkan toples Mama. Kemudian tanganku terluka, aku berdiri untuk diobati oleh kakak. Tiba-tiba aku pingsan dan jatuh dengan posisi kepala persis menjatuhi pecahan toples, sehingga mendapatkan 3 jahitan di kepala. Belakangan, aku selalu bersiap-siap ketika berdarah. Begitu aku merasakan pusing, aku akan duduk, sehingga aku jarang pingsan lagi.

Namun, empat kejadian pingsan di masa lalu itu memberikanku pengertian yang salah. Aku pikir, aku tidak akan sanggup melakukan donor darah. Beberapak kali ada kegiatan donor darah di kampus aku dulu. Sebenarnya ada keinginan aku untuk ikut. Namun, aku selalu berpikir aku akan pingsan sejak tetes pertama darah keluar dari tubuhku.

Sampai akhirnya, aku bertemu dengan Mbak, meski hanya melalui dunia maya. Bulan Oktober yang lalu, aku berada di Jogja untuk menghadiri Pertemuan Nasional AIDS. Tiba-tiba salah satu peserta drop dan membutuhkan darah. Aku yang membantu teman menyebarkan info kebutuhan darah tersebut, disarankan untuk men-cc ke akun @bllod4lifeID, dan @justsilly. Alhamdulillah, delapan kantong darah berhasil didapatkan malam itu juga.

Sejak itu, aku yang langsung mem-follow akun Mbak dan @blood4lifeID, mendapatkan banyak informasi tentang donor darah. Tidak sekedar informasi mengenai kebutuhan transfusi, tetapi juga tentang pentingnya donor darah untuk menolong orang lain, bahkan manfaat bagi pendonor. Aku yang tertarik mulai browsing, dan sampai pada kesimpulan bahwa sebenarnya aku tak punya alasan apapun untuk merasa donor darah akan menyebabkan aku pingsan.

Kesempatanku untuk mendonor darah pun datang semalam. Berawal dari seorang kawan yang membutuhkan darah AB (+). Aku tak tahu dia sakit apa, yang aku tahu dia kekurangan trombosit, dan penyakitnya penyakit bawaan (gen). Dia harus mendapatkan transfusi trombosit berkali-kali, sejak dia masih SMA. Saat dia drop tubuhnya kejang-kejang, dan memar-memar. Kali ini, lagi-lagi aku meminta bantuan @blood4lifeID, dan mbak untuk menyebarkan informasi tentang kebutuhan temanku. Kami pun mendapatkan donor yang bersedia datang ke PMI, untuk diperiksa, lalu darahnya harus diproses untuk pemisahan trombosit sebelum didonorkan kepada temanku.

Sambil menunggu, aku berpikir inilah saatnya aku donor darah. Aku pun mengambil formulir dan mengisinya. Setelah mengisi aku sempat ragu. Namun seorang kawan menemaniku dan memutuskan untuk mendonorkan darahnya juga. Sampai di ruangan untuk periksa golongan darah, aku menyerahkan formulirku. Lagi-lagi aku merasa takut. Dinginnya ruangan membuat kepalaku pusing, dan dadaku berdegup lebih kencang.

Lalu Mbak tahu apa yang terjadi? Tiba-tiba saja bayangan wajah Mbak hadir ke benakku. Wajah Mbak yang kukenal sebatas avatar twitter. Dari mulai avatar Mbak dengan jampul katulampa, sampai avatar terakhir yang membuat Mbak terlihat berusia 17 tahun. Ajaib. Aku cukup menghembuskan nafas, lalu ketakutanku sirna, dan aku melangkah yakin ketika dipanggil ke ruang transfusi. Prosesnya pun lancar. Alih-alih pingsan, sepanjang transfusi aku malah cekikikan karena acara televisi yang disetel di ruang donor darah. Malah aku dapat pin lucu bertuliskan golongan darahku. Hehe.

Begitulah Mbak, pengalaman pertamaku donor darah, dengan latar belakangnya yang banyak dipengaruhi oleh Mbak. Semoga saja, aku bisa terus konsisten melakukan apa yang bisa aku lakukan agar bermanfaat, termasuk dengan cara donor darah.

Terima kasih ya Mbak, untuk semangat, untuk inspirasi, dan untuk pembelajaran yang luar biasa. Tidak hanya melalui BFL, tetapi juga melalui 3LA, dan kisah-kisah Mbak tentang Tissa, Nando, dan pejuang-pejuang hebat lainnya. Terima kasih untuk peduli, untuk cinta yang begitu besar, juga untuk berbagi kepedulian dan cinta itu.

 Aku sayang Mbak



Bekasi, 21 Januari 2012
Dinda Nuur Annisaa Yura

Ps: salam untuk anak-anakmu yang istimewa ya Mbak

Rabu, 18 Januari 2012

Pintaku Pada Sang Hujan



sumber gambar: http://www.fimadani.com


Hai Hujan,
Hari ini lagi-lagi kamu turun ke bumi dan menyaksikan ceritaku. Tentang dia yang tiba-tiba datang, dan aku yang menerima tanpa persiapan. Ah, meski dengan persiapan, aku tak yakin diriku bisa siap berhadapan dengannya.

Banyak kata rindu yang tersimpan untuknya. Mengendap dalam benakku, menunggu kesempatan untuk diungkapkan. Namun ketika sosoknya muncul, jutaan kata itu, tetap tertahan. Mereka berhasil mengalir di setiap syaraf dan nadiku. Namun terhenti di kerongkonganku, malah mengunci bibirku. Maka ketika mulutku berhasil terbuka, yang keluar hanya tegur sapa biasa. Lalu aku biarkan dia kembali berlalu. Kehadiran yang singkat, secepat kemunculnnya di hadapanku.

Hai Hujan,
Tolong tanyakan pada bulir-bulirmu di sepanjang perjalanannya. Apakah dia kedinginan? Apakah dia memarkir sepeda motornya untuk berteduh? Atau apakah dia sudah sampai di rumahnya yang hangat?

Kalau boleh, tolong perhatikan wajahnya untuku. Apakah dia sedang tersenyum? Seperti bibirku yng tak mau berhenti tersenyum sejak bertemu dengannya. Kalau bisa, tolong intip pikirnya untuku. Apa yang sedang dia pikirkan? Pekerjaannyakah? Keluarganyakah? Apakah ada sedikit saja namaku di sana?

Hai Hujan, kalaupun kamu tak bisa memenuhi semua keinginanku, setidaknya lakukan satu saja pintaku.

Hujan,
Tolong jaga dia ya..


19 Januari 2012
Gadis Pencinta Hujan

Di Sudut Sebuah Ruangan

Di sebuah kantor,
Ketika mentari sudah tenggelam dengan sempurna.
Ketika kesibukan dan rutinitas masih berjalan cepat
Hingga tak sadar,

Di sudut sebuah ruangannya
Ada jiwa yang bergejolak kencang
Ada senyum yang tak sengaja terkembang
Ada hati yang menghangat
Dan wajah yang memanas